Sejenak Merenung
Seiring perkembangan zaman yang kian maju, upaya modernisasi bangsa semakin marak digerakkan, sistem pemerintahan dan pengarahan budaya pun diasuh secara modern. Ini menunjukkan, betapa antusiasnya anak bangsa ini memajukan dan membangun sebuah peradaban modern. Sungguh menjadi sebuah manfaat besar ketika anak bangsa turut ambil bagian dalam proses menuju sebuah peradaban yang hakiki. Tak heran, berbagai macam aktor intelektual bermunculan, lahir menjadi bintang pemberi terang. Menunjukan kemampuan yang nyata dalam upaya membangun peradaban.
Seiring berkembangnya pengetahuan yang makin modern, banyak ide-ide dari anak bangsa masa kini, memberikan warna baru dalam sejarah perjalanan umat manusia. Kalangan muda semakin aktif menjalankan ide-ide kemajuan, berperan aktif dalam pembangunan moral yang normal, kaum muda kini menunjukkan jati diri mereka, bertapa memang sudah waktunya kaum muda bersatu bersama membangun dan mewujudkan impian kemerdekaan yang telah dirintis oleh pendahulu-pendahulu kita.
Kemajuan tak kan dicapai bila kita hanya diam ditempat atau terkotak-kotak dalam sebuah kelompok-kelompok kecil yang kadang terjadi perbedaan pandangan, dalam menyikapi kemajuan, dan sering pula saling berebut pengaruh demi mendapatkan dukungan untuk mempertahankan ide-ide kelompok itu sendiri.
Bagaimana dengan daerah kita “Gorontalo Tercinta”? Tak bisa dipungkiri bahwa kita harus menerima keberadaan modern, dalam praktek kehidupan kita sehari-hari, dimana budaya asing mulai mempengaruhi budaya local kita yang kental dengan adat dan legalitas agama. Seberapa kuat kita menolak keberadaan zanan yang telah berubah, pun kita tak bisa lepas dari selimut kemodernan itu sendiri, karena bukan mustahil kita hanya diam dan membiarkan perubahan lingkungan, cara pandang anak bangsa, dan sistem pergaulan yang bersifat global itu menari dihadapan kita, kita pula tak dapat menjauh dari keberadaan dunia yang semakin tua semakin modern, sementara yang lainnya ikut ambil bagian dalam proses menuju sebuah perubahan yang nyata.
Hal yang perlu kita kita ketahui adalah tidak ada alasan bagi kita untuk berlari meninggalkan perbahan yang semakin radikal. Kemana pun kita berlari, berpijak didunia yang jauh dari bising kendaraan, namun pada hakikatnya kita tak bisa membohongi diri sendiri bahwa apa yang terjadi disekitar kita sebagian besar adalah yang sangat kita butuhkan.
Kemajuan teknologi telah menyentuh tanah yang terjauh pun, misalnya didaerah kita, Gorontalo tercinta. Siapa yang menyangka, Gorontalo masa lampau berbentuk kerajaan lokal yang memegang teguh adat budaya yang kental dengan kearifan lokal, berubah menjadi sebuah daerah terbuka dengan berbagai sentuhan dunia luar? Siapa yang menyangka anak raja adalah pemegang pengaruh baik politik maupun ekonomi? Namun ketika modernisasi dunia, praktek dominan bangsawan pun mulai pudar. Bintang baru pun bermunculan, seiring berakhirnya pengaruh budaya lama yang mendarah daging sejak nenek moyang kita.
Sentuhan Teknologi Memudarkan Budaya Lokal, Benarkah?
Sebuah keadaan yang tak pernah kita bayangkan bagaimana teknologi modern menyentuh hingga urat syaraf yang paling kecil dalam diri kita. Tak pernah direncanakan manusia masa lalu bahwa kita (manusia zaman kini) akan dihadapkan pada masa dimana zaman ini adalah masa kompetisi. Zaman serba bersaing, dan penuh dengan warna dimana kita tak bisa diam dalam rumah.
Tak kalah pula, pertarungan idealisme anak bangsa terus bermunculan, tidak ketinggalan juga anak daerah kita, Gorontalo. Demi sebuah peradaban, berbagai macam faham pun lahir dalam rutinitas pengetahuan, ada yang mencoba menyerap pemahaman dunia luar dan mencoba memadukannya dengan pemahaman lokal, menciptakan sebuah singkronisasi baru dalam tatanan berbudaya, berbangsa dan bernegara. Ada pula yang masih tetap memegang teguh keaslian budaya, cara pandang, pemahaman atau sikap yang sifatnya lokal, namun buka berarti mereka ini menendang keluar cara-cara modern yang telah menyelimuti anak daerah ini.
Apapun bentuk kemajuan dalam proses menuju kebebasan dan peradaban, hendaknya tak bijak bagi kita melupakan budaya lokal, yang sebenarnya merupakan akar munculnya sebuah peradaban modern. Ibarat pepatah mengatakan, tak ada ibu maka tak lahir anak. Begitu juga dengan perjalanan peradaban modern, sebuah kemajuan berawal dari kesadaran akan keterbelakangan. Intelektual lahir dari mayoritasnya kebodohan, dan kebodohan merupakan motivasi penting dalam melahirkan bintang yang intelek modern dengan kapasitas dan fasilitas teknologi tinggi. Tetapi, benarkah teknologi memudarkan budaya lokal? Mudah untuk menjawabnya, bisa benar bisa juga tidak. Tetapi mari kembali pada diri sendiri, haruskah kemajuan modern akan menghapus tatanan kearifan yang dibangun dengan moral agama. Budaya lokal tidak pernah terhapus oleh bentuk modernisasi budaya manapun, semua tergantung pemilik budaya itu sendiri. Seberapa penting bagi kita menjaga keaslian budaya sebagai identitas kita, sebagai kebanggan kita karena merasa bagian dari anak bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa.
Budaya Lokal Positif Jangan Dilupakan
Sebagaimana yang saya tulis dilupakan, bahwa budaya lokal tidak akan pernah terhapus oleh masuknya budaya manapun, semua tergantung pemilik budaya itu sendiri. Coba kita perhatikan disekitar kita, betapa kuatnya arus global yang menghantam tatanan budaya yang diwariskan nenek moyang kita, sebagai orang pertama yang menegakkan konsep nilai spiritual dalam ikatan adapt yang kuat. Mereka menjadikan Gorontalo sebagai bumi pemegang saham kebajikan dalam menetapkan nilai-nilai moral yang berlandaskan agama. Mereka telah mengatur sedemikian rupa bagaimana sebuah bahasa, perhelatan adat dan tatacaranya, serta ideologi yang semua itu tersusun rapi dalam semboyan “Adat Bersendikan Sara’ dan Sara’ Bersendikan Kitabullah”.
Nilai-nilai normatif yang ditanamkan pendahulu kita, aturan hukum yang ditegakkan secara serentak oleh mereka yang berjasa dimasa lampau, haruskah itu hilang hanya karena mengikuti trend kebudayaan modern yang pada dasarnya diimpor dari barat.
Banyak budaya lokal kita yang perlahan-lahan mulai rontok dari nilai-nilai sebenarnya, padahal jika kita kaji dengan benar, daerah kita Gorontalo tercinta, adalah termasuk wilayah adat yang tinggi, memiliki kehidupan yang secara horizontal merujuk pada konsep agama. Jenis-jenis kegiatan tradisional yang merupakan ciri khas asli Hulondhalo kini seakan dibiarkan begitu saja oleh kita sendiri.
Tak sedikit dari kita mulai bahkan merasa asing dengan bahasa kita sendiri, bahasa Gorontalo, bahkan tidak kurang dari kita sering mempraktekkan bahasan orang lain di kehidupan kita sehari-hari, misalnya bahasa Manado, lebih sering kita mengagungkan bahasa mereka dalam pergaulan sesama kita, padahal kita terlahir sebagai penduduk asli binthe biluhuta. Begitu juga pengaruh dialeg makassar mulai menyelip diantara percakapan kita sehari-hari, dan yang lebih dialeg Jakarta yang mulanya merupakan bahasa asli betawi, kini begitu eksis diantara kita, radio-radio lokal pun dalam acara-acara show mereka lebih sering menggunakan bahasa “lho, lu, guwe, nggak, dan kawan-kawan”. Padahal bila dipikir, merekalah yang semestinya mempopulerkan bahasa kita melalui siaran-siaran radio. Sehingga saudara-saudara kita tidak merasa asing dengan bahasa kita sendiri.
Selain itu, kegiatan tradisional yang bersifat budaya positif lainnya mulai dilupakan, misalnya “Tanggomo” (bila saya tidak salah). Saya masih ingat ketika saya masih kecil dan belum menginjak bangku sekolah dasar, Tradisi ini diperlombakan hingga tingkat kabupaten, Tanggomo (bila saya tidak keliru) merupakan lantunan syair yang bersifat nasihat. Ketika saya masih kecil dulu, kakek saya sering melantunkannya, ketika saya menjelang tidur. Bagi saya itu bukan sekedar pengantar tidur saja melainkan sebuah pengajaran, karena yang dilantunkan adalah pendidikan.
Kini, tradisi itu hilang, seiring masuknya budaya musik modern yang sangat popular, bila zaman dulu terkenal grup Dana-dana, yang alat musiknya terdiri dari gambus dan marawis (maruwasi;dalam bahasa Gorontalo) yang dimainkan oleh beberapa orang, juga sepasang penari Dana-dana itu sendiri, kini berganti dengan lahirnya grup musik band, bila zaman dahulu orang begitu antusias dengan lagu-lagu dan tarian saronde, tarian tidi (bila saya tidak keliru), dan lain-lain kini berganti dengan grup dancer dengan gerakan modern yang cenderung erotis. Dan lagi orang terdahulu mengenal tradisi “Pa’iya Lo Hungo Lo Poli” kini hilang seiring masuknya budaya modern yang memperkenalkan konsep musik “duet” dalam menyanyikan lagu modern. Haruskah itu kita biarkan hilang ditelan bumi modernisasi. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Bukan waktunya untuk saling menyalahkan, yang tepat bagi kita adalah mempertahankan nilai budaya, nilai moral, nilai adapt yang dulu kita miliki.
Bersambung…….di artikel selanjutnya....



0 komentar:
Posting Komentar