• pasang iklan

Mengungkap Kebenaran Dibalik Cerita

Senin, 15 November 2010
Bagian I : Cerita Buaya Kembaran Manusia
survey : perjalanan menuju pelabuhan Kwandang

Gorontalo, heboh. Warga kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara dikejutkan dengan bergulirnya berita tentang manusia kembaran buaya. Berita terus bergulir diantara masyarakat dikecamatan Kwandang, bahkan terdengar hingga keluar daerah Gorontalo. Lokasi dimana berita itu bergulir berada didesa Malambe (pulau Malambe) Kecamatan Kwandang. Karena berita ini, rupanya Malambe yang sedianya diisukan menjadi sebuah kecamatan kepualauan ini, kini menjadi ramai dikunjungi ibarat sebuah pulau wisata.

Setiap hari pengunjung berdatangan dengan demi melihat dan membuktikan langsung kebenaran berita itu, bahkan hari libur seperti hari minggu pun pengunjung membludak dan memadati rumah pemilik buaya kembaran manusia itu. Disisi lain berita ini ternyata menguntungkan bagi mereka pemilik taksi laut, rupanya dengan hebohnya Malambe dengan buaya kembar manusia, memberikan dampak ekonomi bagi rakyat sekitar pelabuhan Kwandang, karena setiap jam ada penumpang yang minta diantar ke pulau Malambe. Ok, tinggalkan dulu cerita soal taksi laut yang merasa beruntung, kita lanjut keberitanya.

Lalu bagaimana ceritanya? Sebaiknya buktikan sendiri. Saya sendiri mendengar berita ini, merasa kaget, dan bertanya-tanya tentang kebenaran berita itu, apakah ada manusia kembar buaya dizaman modern seperti ini? Lebih lagi teman difacebook, mengirimkan gambar buaya yang sedang istirahat diatas kasur melalui tag foto ke profil facebook saya. Rasa penasaran mulai mengusik alam fikiran.

buaya Sabrina, ditangkap waarga
Berangkat dari rasa penasaran dan ingin tahu tentang buaya kembaran manusia itu, saya memutuskan menggunakan waktu luang saya untuk mengunjungi lokasi tersebut dimana buaya itu berada. Minggu pagi sekitar pukul 08.00 wita saya berangkat menuju Kwandang. Dengan semangat ingin tahu, dan terdorong ingin mempostingnya diblog (mini web) saya terus memburu beritanya mulai dari wawancara dengan orang-orang daratan (penduduk sekitar pelabuhan Kwandang), melalui penuturan beberapa orang yang pernah mengunjungi langsung ke lokasi, mereka membenarkan berita tentang buaya kembaran manusia tersebut, bahkan seorang warga (namanya enggan diberi tahu) membenarkan pula tentang berita itu dan menjawab dengan penuh keyakinan.

Disisi lain, sebagian warga merasa kurang percaya dengan berita itu, menurut mereka buaya itu hanya kebetulan saja, berada didesa itu, naik kedaratan dan tidak memperlihatkan keganasannya sebagaimana lazimnya seekor buaya yang dikenal ganas dan suka memburu mangsa. Mereka beranggapan bahwa berita itu tidak benar, memberikan pemaparan pemikiran mereka, mana mungkin seorang manusia normal bisa melahirkan buaya.

Yang namanya orang melahirkan, identik dengan kehamilan, berhubungan pula dengan pernikahan dan peredaran sperma laki-laki ke sel telur wanita, yang kemudian membeku dan membentuk satu manusia baru (atas izin Allah). Orang yang tidak percaya ini beranggapan, mana mungkin orang mansia bisa melahirkan buaya, kalau pun benar, paling tidak ada sentuhan fisik yang sebenarnya menjadikan wanita hamil, apakah ada manusia yang berhubungan dengan buaya (paling tidak bahasa kasarnya seperti itu). Kalau manusia setengah buaya kemudian berjalan dijalan selayaknya manusia normal, mungkin itu baru sumber dipercaya, karena secara pasti akan ada kontak dengan manusia lain sebagai wujud komunikasi social, demikian kata sebagian orang ketika saya meminta tanggapan mereka tentang kebenaran buaya kembaran manusia itu bisa masuk akal sehat manusia normal.
Buaya Sabrina, istirahat ditemani keluarga

Oh, ya… kita tinggalkan saja mengenai ketidak-percayaan sebagian orang dengan pemberitaan berita itu. Saya juga meminta pendapat warga lain yang percaya dengan berita, dimana mereka termasuk orang yang mempercayai berita itu benar, mereka pun mengungkapkan bagaimana ciri-ciri fisik buaya itu sebenarnya. Ternyata berita dan kehebohan buaya ini mampu menghipnotis banyak orang untuk mengunjungi desa Malambe, terbukti ketika saya mengunjungi lokasi tersebut banyak pengunjung yang memadati rumah pemilik buaya tersebut. Bahkan desa itu yang sebelumnya terlihat biasa saja, berubah menjadi sebuah lokasi istimewa ibarat lokasi wisata.

Bagaimana ciri-ciri fisik buaya itu? Tentu semua orang akan bertanya-tanya. Ya, sebagaimana buaya pada umumnya, buaya tersebut memiliki ciri fisik yang tak berbeda dengan buaya lainnya, namun ada beberapa perbedaan yang menonjol dengan buaya kembaran manusia ini, antara lain :
- buaya tersebut memiliki jari-jari dengan jumlah seperti jari manusia;
- seperti buaya lainnya bersisik, tapi buaya ini sisiknya lembut seperti kulit manusia;
- seperti halnya manusia, buaya ini memiliki rasa malu, sebagai mana manusia;
- buaya ini pun meneteskan air mata selayaknya manusia meneteskan air mata ketik sedih;
- panjangnya 151 cm dengan berat badan ideal, kulitnya berwarna kemerah-merahan;
- mengerti bahasan manusia.
Bila diperhatikan, sungguh aneh kedengarannya, tetapi ini berita yang berkembang diantara penduduk pedukuhan Dulango, Desa Malambe (Pulau Malambe) Kecamatan Kwandang-Gorontalo Utara. Tapi bagaimana kebenarannya, saya masih membutuhkan waktu untuk membuktikannya secara akal dan masuk akal. Percaya atau tidak tergantung pribadi yang menerima berita itu sendiri, kita tidak tahu apa rahasia Allah sebenarnya, dan tugas kita sebagai manusia adalah bagaimana membuktikannya secara ilmiah tetapi tidak melanggar kodrat Allah.

Riwayat Tentang Buaya Kembaran Manusia Itu.
Menurut cerita yang berkembang, buaya itu anak dari seorang ibu yang bernama Ibu Ati dan suaminya Pak Iko (sapaan mereka sehari-hari) lahir sekitar 17 tahun yang lalu bersama kembarannya manusia, buaya tersebut berjenis kelamin perempuan dengan nama Sabrina dan kembarannya laki-laki bernama Sabri(begitu menurut cerita berkembang)

Entah benar cerita ini, yang jelas seperti itu penuturan seorang yang dekat dengan mereka, sayangnya, Pak Iko dan Ibu Ati beserta anaknya laki-laki sulit untuuk dihubuingi karena mereka berada didalam rumah bersama buaya tersebut, sementara rumah mereka dipebuhi pengunjung. Menurut cerita dari kerabat mereka, sekitar 17 tahun lalu, keluaraga ini pindah ke desa Titidu Kecamatan Kwandang, karena Ibu sudah hampir melahirkan.

Tak menunggu waktu yang lama, akhirnya si Ibu ini pun melahirkan dan lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Sabri. Ketika sang biyang (bidan kampung) yang menangani proses kelahiran, usai memberikan pertolongan kepada Ibu Ati, sang biyang tersebut membersihkan semua pakaian yang digunakan si Ibu Ati. Sang biyang pun pergi kesungai setelah memotong tali plasenta yang masih melingkari tubuh bayi laki-laki ini.

Disungai, ketika membersihkan pakaian Ibu Ati yang juga dibantu Pak Iko, mereka melihat ada gumpalan kecil diantara lumuran darah yang mengotori pakaian, dan dari gumpalan kecil itu keluar hewan kecil seperti cicak, yang sebenarnya mereka perhatikan lebih seksama ternyata adalah seekor buaya. Lalu mereka pun memutuskan untuk melepasnya kesungai. Begitu cerita awalnya.

Setelah beberapa tahun berlalu, keluaraga pak Iko pun sering bermimpi tentang kehadiran seekor buaya remaja diantara mereka, begitu anak laki-laki yang bernama Sabri, dia sering bermimpi bahwa dia bersaudara dengan seekor buaya. Ternyata mimpi itu sama seperti yang dialami Pak Iko, Ibu Ati, Orang Pak Iko dan Ibu Ati, yang menurut cerita sangat tahu tentang kelahiran Sabri dan Sabrina si buaya itu.


Lalu Bagaimana Hingga Hal Ini Menjadi Heboh?

buaya Sabrina
Hhhmmm...semakin bercerita semakin kedenagaran tak masuk akal, tetapi inilah ceritanya, yang diambil sumber lokasi buaya (menurut penuturan orang-orang yang rela antrian kerumah buaya) tersebut. Menurut cerita, ada seorang nelayan warga pedukuhan Dulango (semacam dusun, atau lingkungan) desa Malambe (Pulau Malambe) Kecamatan Kwandang. Nelayan tersebut berniat memancing dipinggiran pantai tak jauh dari muara dipulau Malambe, dan nelayan itu pun kaget lari tunggang langgang karena ketakutan, dia pun terus mengayuh perahunya, lalu menyebarkan berita ini ke warga pulau Malambe.

Sentak saja, penduduk pulau Malambe pun berbondong-bondong memburu buaya tersebut dan mendapati buaya tersebut, lalu menangkapnya. Kabar ini pun didengar Ibu Ati dan anaknya Sabru, dan langsung menuju lokasi penangkapan buaya tersebut. Sabri meminta warga untuk tidak membunuh buaya tersebut karena buaya itu adalah saudaranya, warga pun mengabulkannya permintaan Sabri dan ibunya, dengan menggunakan bahasa Gorontalo, Sabri pun berkomunikasi dan sentak saja mereka seperti saudara yang terpisah jauh dan bertemu setelah berpuluh tahun terpisah.

Kemudian buaya tersebut diboyong kerumah mereka di pedukuhan Dulango, desa Malambe, Kecamatan Kwandang, dari situlah awal kehebohan berita ini. Hingga saat ini berita ini pun tersebar dan terus menyebar hingga ke Sulawesi Utara, dan menjadi berita kontroversi di Gorontalo, sebab banyak kalangan yang sulit menerima kebenaran berita ini.

Sayangnya, keluarga Pak Iko sulit ditemui saking banyknya jumlah pengunjung yang ada dilokasi pulau tersebut. Saya pun termasuk orang yang penasaran dengan buaya ini, dan terus memburu kebenaran beritanya.

Bersambung.............
di posting selanjutnya, dalam tema yang sama


(beritanya tentang buaya ini masih terus dalam penyelidikan, benarkah buaya Sabrina, kembaran dengan Sabri yang ternyata adalah seorang siswa salah satu sekolah ternama dikwandang).

tulisan ini dpt diakses melalui : http://takula.blogdetik.com/2010/11/15/mengungkap-kebenaran-di-balik-cerita/

4 komentar:

Administrator mengatakan...

omoluwa sambungan lio ?
salam mohutata !
http://www.vco86.tk/

Hardiyanto Takula mengatakan...

ok, nanti di sambung d lain kesempatan... salam moawota

Risky SP Lihu mengatakan...

salam blogger gan!!!
jadi tidak sabar suup balik liburan desember ...
kalo boleh tw dimana lokasinya gan!?!

Hardiyanto Takula mengatakan...

lokasinya ada di pulau ponelo, Gorontalo Utara, 45 menit dari pelabuhan Kwandang, tepatnya didesa Malambe

Posting Komentar